peluang ke-seterusnya


" wey,wey,wey, dahlaa weii "


" kau ingat kau hebat ?"



"iman kau tu lemah wehhh , lemahh !"




"weh , dah dahlah tuuu , mengaku saja dosa dosa kau "



" hei , kau tak layak untuk syurga , tak layak ! "



"kau pernah tinggal solat kan ?"

"kau leka dengan ajnabi kan?"
"eiiiii , jijiknya kau "

"  kau suka sangat dengan dosaa "



"kau ahli neraka! "



" kau kotor dengan dosa "



" kau ada harapan lagi ke ? "


"......."

***

air mata mengalir , tak henti , tak ubah seperti seorang yang dijatuhkan hukuman oleh mahkamah dunia , terasa semua mata memandangku hina . pandangan mata aku gelap , gelap sangat . wahai Allah , aku dimana  ? kenapa aku keseorangan . aku dimana ? aku dimana ?!


.....


makin kuat cacian menghempas telinga , pedih , namun kebenaran . makin lama , makin kuat bisikan jahat , makin berat beban bahuku , makin berat makian ini , aku terhinaaa . paling hina , dengan dosa

sakit dipukul "teguran" , seolah olah aku dipandang semua mata . dipandang untuk dihinaa .


" kau rasa kau hebat? kau lupa tuhan jauh lebih kuat ? kau lupaaa ! "

bukk ! jatuh sepasang lutut kebumi , berat bahu menanggung kehinaan yang direka sendiri . berat bahu menanggung cacian ilusi . berat . berat .berat  tak terdaya .


Aku tewas juga akhirnya .


jatuh dengan penuh rasa hina , rasanya lebih baik saja muka ini disembam ke bumi selama lamanya . tak . tak sanggup aku memandang dunia ,  segala kejahatan terbongkar di dalam maya sendiri . kata kata pedih , yang cuma ilusi , makin menghempap diri . sudah , aku tak mampu bangun lagi .

malu . terhina . marah . bercampur baur .


masih menangis , di situ , di lantai dingin suasana kelam tanpa cahaya . puas menangis . aku tak akan bangun lagi . bahuku terlalu beban dengan dosa . ahh , tak sanggup . telapak tangan yang menutup muka juga tak mampu menahan aku dari terus malu . malu dengan mereka . aku relakan saja diri dicaci , dicaci ilusi . tiada daya untuk melawan segala kata mereka kerana semua benar belaka .

kali ini . aku kalah .


tiba tiba ....

ada tangan yang menyapa lembut bahuku , sumpah , seperti ada aliran electron mengalir terus dari imannya menyerang tepat ke hati aku . Tangisanku makin hebat , sebak serta rasa jauh terhina . terasa seperti ada di dunia baru . ikatan gelap di mata aku dibukanya . subhanallah , cerah . aku bukan lagi di tempat kelam seperti tadi , perlahan lahan mencari kekuatan , aku mengangkat mukaku . melihatkan mukanya . persis rupaku , cuma jauh lebih suci .

" siapa kau ? "

aku iman kau . lembut tangannya menggenggam tanganku , genggam kuat, seolah olah mengalirkan kekuatan baru buat aku berdiri .

"dah lama rasanya kau jatuh , sehingga kau lupa cara untuk bangun , mari aku bantukan kau berdiri ... "


" mari ? kita berjalan hingga syurga , dan kali ini , kau tidak keseorangan , kau ada aku , maka kita takkan tersesat "


maka , segala kata cacian tadi lenyap bergantikan kata kata harapan . harapan pendosa yang mahu kembali . suasana yang kelam juga bertambah cahayanya .





semuanya dengan hadiah tuhan  . iaitu kau .

wahai Iman .


 ***

Buat kita , pendosa, harapan sentiasa ada , biar sejuta kali kita rebah , ingatlah , kita masih punya peluang "ke  seterusnya "selagi nyawa masih ada .

terus kuat memegang panji panji agama .
terus kuat melawan nafsu dan dosa .

andai dosa seluas lautan , maka ingatlah pengampunan tuhan lebih luas seluas langit dan bumi . seluas dunia dan seisinya .

jangan putus harap . syurga masih jauh , terus kuat untuk berjalan !




Comments

  1. I literally cried to this. Thank you for writing the feelings I have that I can never explain. Jazakillah, sis :*

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Lyubov.

peluang

8June